
Second weeks in August Indonesia Government send 248 books for Humana House 36 Pontian Malacca.
The student really response with this presents they need this books for their study. Humana House 36 have planning for open reading corner, for this planning they need support from Pontian Malacca Office and others. We hope we can open this corner soon.
Book is window to open world in your hand, you can hear this phrase every time and Indonesia Government really concern about Indonesia Worker Children, they hope Indonesia Worker Children can change their future with education. They send this present for give attention how Indonesia Worker Children is so special for Indonesia Government.
Humana and Indonesia Government is partner for give education for worker at plantation, mostly plantation at Sabah– Malaysia have worker from Indonesia. Total Indonesia worker in Sabah Malaysia 33.000 , and their children can’t go to public school in Sabah, until now just Humana can help them for have education at plantation, and now Indonesia Government send Indonesia teacher for Indonesia Worker Children, they give support to for school like send books for Humana School at Plantation.
Humana House 36 Pontian Malacca receive 248 books, and we have planning for make reading corner from that books.
Si Biji Dari Pontian
Risna anak yang cerdas, sudah lancar membaca, memiliki daya ingat yang sangat kuat, bila ia dapat kesempatan untuk menyelesaikan sekolah tentu ia akan dapat mencapai cita-citanya.
Lahir dari pasangan Bapak Rahman dan Ibu Aisyah, sebagai anak bungsu, keluarganya berharap ia akan berhasil menyelesaikan sekolah dasar. Semua kakak dan abangnya pernah bersekolah tapi tak ada yang sampai tamat sekolah dasar atau Primary , bahkan ada abangnya yang bersekolah disekolah kerajaan tapi terhenti karena tidak punya surat lahir dan merupakan pendatang asing, tidak semua orang dapat bersekolah disekolah kerajaan terlebih pendatang asing dilarang untuk bersekolah disekolah kerajaan kecuali memiliki surat lahir tempatan dan bapak yang sudah memiliki IC (KTP) ataupun penjamin, itupun harus membayar RM 200 / bulan atau sekitar Rp 500.000, ini yang menyebabkan abangnya putus sekolah.
Sekarang kakak dan abangnya bekerja membantu bapak dan Ibu, mereka bekerja diperkebunan– perkebunan, sebelum sampai ke Pontian Malacca orang tuanya selalu bepindah-pindah dari satu perkebunan ke perkebunan lainnya yang ada di Sabah Malaysia.
Karena sulit untuk bersekolah disekolah kerajaan maka Risna bersekolah di Humana pusat bimbingan yang memberikan pendidikan dasar setara dengan primary disekolah kerajaan.
Sewaktu kecil Risna di panggil “Biji” karena waktu Ibunya hamil hingga melahirkan selalu bekerja memungut Biji kelapa sawit, namun nama itu kemudian tidak lagi dipakai dan digantikan dengan Risnawati dengan harapan orang tua si “Biji” yang kecil ini dapat menjadi permata hati keluarga dan membawa maruah (nama Baik) keluarga.
Walaupun baru primary 1 Risna sudah lancar membaca sejak kinder dan dengan ingatan yang kuat dia selalu dipilih untuk mewakili sekolah pada pertunjukan graduation tahunan ataupun acara monthly meeting bahkan karena ia kuat berlari ia sering mewakili untuk sport festival setiap tahunnya.
Tapi alangkah sayangnya bila ia hanya dapat menamatkan sekolah dasar karena tidak dapat melanjutkan sekolah, Humana hanya dapat menyelenggarakan pendidikan untuk kinder dan primary sedangkan tingkatan masih belum ada.
Adakah kesempatan untuk risna dapat bersekolah lebih tinggi dari pada abang dan kakaknya atau ia hanya akan membantu orang tuanya bekerja di perkebunan seperti abang dan kakaknya?
No comments:
Post a Comment