
Namaku Diana Latief tapi bisa juga dipanggil Diana Syarif , Latief ataupunSyarief adalah sama nama Ayahku. Dulu ayahku bekerja di Pontian Malacca juga tapi kemudian pindah ke Kerosa Plantation.
Aku tetap tinggal di Pontian bersama Kakek dan Nenekku, kami keluarga besar semua adik beradik Ibuku bekerja di Pontian, aku dibesarkan oleh nenekku , aku bersaudara 5 orang tapi sebenarnya ada 2 orang saudaraku yang meninggal sewaktu kecil, klinik jaraknya jauh dari Pontian hingga sulit untuk mendapatkan perawatan kalau sakit, itu yang menyebabkan saudaraku meninggal diwaktu kecil.
Abangku dulu bersekolah di Samarinda kemudian setelah tamat SD dia kembali ke Sabah dan bekerja bersama orang tuaku, dia tidak melanjutkan sekolah karena tempat famili di Samarinda tidak nyaman untuk sekolah katanya, aku jadi takut sekolah disana, untung ada Humana jadi aku tidak usah bersekolah jauh dari nenek dan kakekku.
Kami keluarga yang sederhana, tinggal di perumahan yang disediakan company, dirumah kakekku ini tinggal 2 keluarga yaitu keluarga pak cikku dan kakekku semua ada 8-9 orang dengan dua kamar tidur dan satu ruang tamu dan satu dapur.
Bila tidak sekolah aku menjaga adikku sampai pak cikku pulang dari kerja, baru kemudian aku bermain, aku punya banyak teman semua teman sebayaku sekolah di Humana, namun banyak juga yang seusiaku sudah bekerja di perkebunan membantu orang tua mereka.
Kakekku selalu berkata aku harus sekolah karena waktu kakekku kecil tidak ada yang menyekolahkan beliau sehingga sampai sekarang beliau buta huruf, tapi untuk menghitung kakekku sangat pandai, dia suka mengajari kami berhitung.
Sekarang musim kering hujan jarang turun sehingga aku terpaksa mandi di kolam kalau persediaan air sudah menipis. Aku ingin sekolah terus tapi tidak ada sekolah tingkatan di Humana. Tapi Guruku berkata bahwa kalau melanjutkan kami akan dikirim ke Nunukan, semoga aku bisa sekolah terus hingga tamat supaya aku bisa mencapai cita-citaku, aku ingin jadi guru juga kalau sudah besar bisa mengajar anak-anak untuk bisa membaca dan berhitung.


Kejuaraan sukan (olahraga) tahun ini aku dapat memperlihatkan kebolehanku untuk berlari dan sepak bola, aku senang sekali bisa bertanding dengan teman-teman yang berasal dari sekolah humana lainnya. Saat inilah aku bisa berkenalan dengan banyak teman-teman, kejuaraan sukan tiap tahun aku nantikan.
Aku sudah 5 tahun bersekolah di Humana House 36 , pernah juga aku pergi pulang ke kampungku di Sulawesi dan hampir setahun aku tak bersekolah, orang tuaku berasal dari Sulawesi suku Bugis dan sudah lama bekerja di perkebunan kelapa sawit Sabah Malaysia , sulit untuk mencari pekerjaan di kampung sehingga kami merantau sampai ke Sabah Malaysia disini banyak teman tapi kami jarang pergi kebandar (Lahad Datu) karena kalau ada Check In dan kami tidak ada surat kami bisa ditangkap, jadi aku dan teman-teman hanya bermain disekitar perkebunan terkadang kami memancing di perigi / kolam disana banyak ikannya kalau dapat bisa buat lauk dibawa pulang kerumah, ibuku pasti senang.
Keadaan di perkebunan terkadang tidak menyenangkan karena pada saat susah air kami harus mandi dikolam yang airnya seperti milo (keruh) daripada tidak mandi kan hehehehe.
Ibuku sangat mendorong aku untuk sekolah terus tapi aku tidak mahu dikirim ke Nunukan karena bila dikirim disana aku akan berpisah dengan orang tuaku, kalau bisa aku mau melanjutkan sekolah yang dekat-dekat saja bila tak ada lebih baik berenti saja, sudah cukup aku bisa membaca dan menghitung nanti aku bisa bekerja di perkebunan membantu orang tuaku.
Senang sekarang ada Guru Indonesia yang membantu kami belajar semoga nanti ada sekolah Indonesia untuk anak perkebunan sehingga aku bisa melanjutkan sekolah.
From students data and leave and registered data we find how many total students every month and how many students leaving and registering every month from December until September already.
· December we have total students 40 and leaving 2 students and register in this month is 4 students.
· January we have total students 42 and registering in this month is 2 students
· February we have total students 46 and leaving 1 and registering in this month is 5 students
· March we have total 50 students and leaving 1 and registering in this month is 5 students.
· April until June we have total 54,58, 61 students but school leave data is 0 and register is 4,4,2
· July until September we have total 59,59,60 with school leave data is 2,0, and 1 but don’t have register in this month.
· We try for minimal and push school leave data with give process for leaving and find the reason why leaving from school, I hope we can recover the student for have motivation again for go to school, parents is so important factor why the students leaving.

Second weeks in August Indonesia Government send 248 books for Humana House 36 Pontian Malacca.
The student really response with this presents they need this books for their study. Humana House 36 have planning for open reading corner, for this planning they need support from Pontian Malacca Office and others. We hope we can open this corner soon.
Book is window to open world in your hand, you can hear this phrase every time and Indonesia Government really concern about Indonesia Worker Children, they hope Indonesia Worker Children can change their future with education. They send this present for give attention how Indonesia Worker Children is so special for Indonesia Government.
Humana and Indonesia Government is partner for give education for worker at plantation, mostly plantation at Sabah– Malaysia have worker from Indonesia. Total Indonesia worker in Sabah Malaysia 33.000 , and their children can’t go to public school in Sabah, until now just Humana can help them for have education at plantation, and now Indonesia Government send Indonesia teacher for Indonesia Worker Children, they give support to for school like send books for Humana School at Plantation.
Humana House 36 Pontian Malacca receive 248 books, and we have planning for make reading corner from that books.
Si Biji Dari Pontian
Risna anak yang cerdas, sudah lancar membaca, memiliki daya ingat yang sangat kuat, bila ia dapat kesempatan untuk menyelesaikan sekolah tentu ia akan dapat mencapai cita-citanya.
Lahir dari pasangan Bapak Rahman dan Ibu Aisyah, sebagai anak bungsu, keluarganya berharap ia akan berhasil menyelesaikan sekolah dasar. Semua kakak dan abangnya pernah bersekolah tapi tak ada yang sampai tamat sekolah dasar atau Primary , bahkan ada abangnya yang bersekolah disekolah kerajaan tapi terhenti karena tidak punya surat lahir dan merupakan pendatang asing, tidak semua orang dapat bersekolah disekolah kerajaan terlebih pendatang asing dilarang untuk bersekolah disekolah kerajaan kecuali memiliki surat lahir tempatan dan bapak yang sudah memiliki IC (KTP) ataupun penjamin, itupun harus membayar RM 200 / bulan atau sekitar Rp 500.000, ini yang menyebabkan abangnya putus sekolah.
Sekarang kakak dan abangnya bekerja membantu bapak dan Ibu, mereka bekerja diperkebunan– perkebunan, sebelum sampai ke Pontian Malacca orang tuanya selalu bepindah-pindah dari satu perkebunan ke perkebunan lainnya yang ada di Sabah Malaysia.
Karena sulit untuk bersekolah disekolah kerajaan maka Risna bersekolah di Humana pusat bimbingan yang memberikan pendidikan dasar setara dengan primary disekolah kerajaan.
Sewaktu kecil Risna di panggil “Biji” karena waktu Ibunya hamil hingga melahirkan selalu bekerja memungut Biji kelapa sawit, namun nama itu kemudian tidak lagi dipakai dan digantikan dengan Risnawati dengan harapan orang tua si “Biji” yang kecil ini dapat menjadi permata hati keluarga dan membawa maruah (nama Baik) keluarga.
Walaupun baru primary 1 Risna sudah lancar membaca sejak kinder dan dengan ingatan yang kuat dia selalu dipilih untuk mewakili sekolah pada pertunjukan graduation tahunan ataupun acara monthly meeting bahkan karena ia kuat berlari ia sering mewakili untuk sport festival setiap tahunnya.
Tapi alangkah sayangnya bila ia hanya dapat menamatkan sekolah dasar karena tidak dapat melanjutkan sekolah, Humana hanya dapat menyelenggarakan pendidikan untuk kinder dan primary sedangkan tingkatan masih belum ada.
Adakah kesempatan untuk risna dapat bersekolah lebih tinggi dari pada abang dan kakaknya atau ia hanya akan membantu orang tuanya bekerja di perkebunan seperti abang dan kakaknya?